Hidup itu seperti gerbong kereta. Ia mampu mengusung pipa sepanjang sepuluh meter, sepeda motor, sangkar burung, kardus teve puluhan inch hingga ransel seberat 80 liter. Ia menggeret belasan gerbong, melewati stasiun kecil dan singgah sejenak di stasiun besar. Ia mengangkut ratusan orang untuk satu lambaian perpisahan. Ia mengantarkan ratusan orang untuk satu dekapan selamat datang. Ia melepas rekahan fajar pada sang senja. Ia memudarkan segenap nelangsa di akhir pekan. Ia memulas senja dan mencuci udara sore.
Pun hidup. Disana, ada nada kasih saat kelingking saling mengamit. Ada pelukan hangat ketika bulan bersemu kemerahan. Ada mimpi yang dibangun untuk hari esok. Ada senandung kecil untuk sebuah kebahagiaan. Juga, ada isak tangis untuk sebersit nyeri yang menyakitkan.
6 responses so far ↓
munggur // September 18, 2006 at 6:28 am |
Saya setuju bila hidup itu bagai gerbong kereta. Kadang orang juga salah jurusan. namun, lebih sering mencapai tujuan.
Setelah membaca blogmu, senang mendengarmu masih bertemu ayahmu saban akhir minggu. Temani dia, sang ayah tercinta.
ndoro kakung // January 12, 2007 at 1:40 am |
pergi jumat kembali ahad? aha, jadi ingat masa lalu. salam kenal, fem
Sudjono AF // January 29, 2007 at 10:50 am |
tolong bisa diberi alamat email atau yang lain untuk dapat komunkasi dengan penulisnya. Terima kasih
munggur // May 19, 2007 at 4:20 pm |
akan lebih baik bila menampilkan alamat email seperti ini:
femi dot adi et gmail dot com
alasannya: supaya tidak kena mesin2 spammer yang memborbardir alamat inbox tersebut.
eko // October 2, 2007 at 6:22 am |
Dear Pengelola Blog PJKA,
Aku ingat waktu masih kerja di Jakarta dan sering pulang Jakarta – Jogya (PP) atau PJKA maka kadang-kadang rindu terhadap kebersamaan, persaudaraan diantara para pemudik rutin ini untuk itu saat ini saya sudah tinggal di Jambi sehingga ingin rasanya sewaktu2 bersama2 anak & istriku naik kereta Progo he….he…he…. sambil nostalgia
rgds,
eko s
eko // October 2, 2007 at 6:24 am |
Dear,
sorry iki email aku : mbendino@yahoo.com